# Tags
#Peristiwa

Merawat Damai di Ambon, dari Dialog Lintas Iman hingga Gerakan Orang Basudara

Screenshot_20260813_181957_Gallery_copy_1369x839

Ombudsmanindonesia.com – Perdamaian di Ambon tidak cukup hanya dikenang sebagai keberhasilan melewati masa konflik. Ia harus terus dirawat, dijaga, dan diwariskan melalui perjumpaan antarmanusia yang berbeda agama, suku, budaya, dan generasi.

Pesan itulah yang mengemuka dalam Dialog Publik Lintas Iman bertajuk “Bersama Merawat Damai yang Sejati di Kota Ambon Manise”, yang digelar Jemaat GPM Sion-Ambon di Gereja Sion, Ambon, Rabu (12/8/2026).

Forum tersebut mempertemukan dua tokoh agama, Prof. Dr. Abidin Wakano, Rektor UIN A.M. Sangadji Ambon, dan Pdt. Rudy Rahabeat, KMJ Jemaat GPM Sion-Ambon. Dialog juga melibatkan Pemuda Muslim Diponegoro, mahasiswa HMI, perwakilan Angkatan Muda GPM Silo, Sejahtera dan Eirene Klasis Kota Ambon, serta Jemaat Sion.

Pertemuan itu tidak sekadar menjadi ruang bertukar pandangan. Di tengah masyarakat kota yang terus berubah, dialog lintas iman dipandang sebagai salah satu cara untuk menjaga komunikasi, memperkuat kepercayaan, sekaligus mencegah munculnya kembali sekat-sekat sosial.

Damai yang Tidak Pernah Selesai
Pdt. Rudy Rahabeat mengingatkan bahwa perdamaian bukanlah kondisi yang bisa dianggap selesai.
Menurutnya, Ambon memiliki banyak identitas mulai dari City of Music, City of Fish, City of Peace hingga City of Migrant. Keragaman tersebut menjadi kekuatan, tetapi sekaligus menghadirkan kompleksitas kehidupan perkotaan.

“Masyarakat kota adalah masyarakat yang kompleks. Banyak masalah, banyak pengaruh dan tentu banyak cita-cita yang ingin dicapai,” kata Rahabeat.

Ia menyebut sejumlah persoalan yang berpotensi mengganggu keharmonisan masyarakat, antara lain kriminalitas, perkelahian antarkelompok, narkoba, minuman keras, judi online, persoalan lingkungan, hingga tantangan sosial akibat perkembangan teknologi digital.

Karena itu, menurut Rahabeat, masyarakat perlu memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan sejak dini.

“Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kita perlu selalu awas terhadap kondisi di sekitar kita,” ujarnya.

Baca Juga:  Buntut Aksi 27 Agustus, Ketua DPW GBNI DKI: DPR Harus Dengarkan Rakyat

Rahabeat menegaskan, tanggung jawab merawat perdamaian tidak dapat dibebankan kepada satu kelompok. Tokoh agama, pemerintah, aparat keamanan, komunitas masyarakat, hingga generasi muda harus bergerak bersama.

“Kita perlu kolaborasi lintas aktor, termasuk lintas agama dan lintas generasi. Pemuda harus ikut dilibatkan, bukan hanya menjadi penonton,” tegasnya.

Pesannya kemudian ditutup dengan sebuah ungkapan sederhana yang merepresentasikan semangat kebersamaan masyarakat Ambon: “Beta par Ambon, Ambon par samua.”

Dari Hidup Berdampingan Menjadi Saling Menghidupi
Pesan tentang perdamaian kemudian diperdalam Prof. Dr. Abidin Wakano melalui materi “Merajut Ikatan-Ikatan Keadaban Hidup Orang Basudara dalam Membangun Perdamaian Sejati di Kota Ambon.”
Wakano menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak cukup dimaknai sebagai keadaan tanpa konflik. Perdamaian membutuhkan keadaban, dialog, keadilan, serta penguatan kembali nilai-nilai hidup orang basudara yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Maluku.

Menurutnya, manusia hidup dalam keberagaman. Perbedaan identitas agama, suku, budaya maupun latar belakang semestinya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh.

“Ambon adalah rumah bersama orang basudara. Karena itu, perbedaan agama, suku, budaya maupun latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi harus menjadi kekuatan untuk saling menghidupi,” tegas Wakano.
Ia melihat Ambon memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk menjadi rumah bersama. Karakter religius, adat, inklusif, kosmopolit, egaliter dan patriotis menjadi modal penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai.

Namun, modal tersebut tetap menghadapi tantangan.

Politik identitas, polarisasi dan segregasi berdasarkan suku maupun agama, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, menguatnya etnonasionalisme dan etnoreligius, hingga sengketa tanah dan perebutan sumber daya disebut sebagai sejumlah persoalan yang dapat merusak relasi sosial.

Baca Juga:  Mabes Polri Kerahkan DVI, Psikolog, Hingga Personel Korbrimob ke Lokasi Gempa Flores

Persoalan-persoalan itu, kata Wakano, dapat membentuk mentalitas in group dan out group yang pada akhirnya melahirkan “musuh imajiner” di tengah masyarakat.

Karena itu, perdamaian harus dibangun melalui perjumpaan yang terus-menerus.
“Kita perlu mengintensifkan ruang dialog dan perjumpaan. Dari sana kita belajar memecahkan persoalan bersama sekaligus membangun kebajikan untuk masyarakat Kota Ambon,” ujarnya.

Melawan Provokasi dengan Kreativitas Damai
Bagi Wakano, perdamaian juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ia mendorong kolaborasi lintas agama dan suku dalam berbagai bidang kehidupan agar perdamaian tidak berhenti sebagai slogan dalam kegiatan seremonial.

Pendidikan, menurutnya, memiliki posisi strategis untuk memperkuat nilai universal agama, nilai kebangsaan dan kearifan lokal.
Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat juga membutuhkan apa yang ia sebut sebagai “imunitas” orang basudara – kemampuan untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi maupun narasi yang memecah belah.

“Provokasi jahat harus dilawan dengan provokasi damai. Kreativitas masyarakat harus diarahkan untuk memperkuat persaudaraan, bukan memperlebar perbedaan,” katanya.
Nilai persaudaraan itu, menurut Wakano, telah lama hidup dalam filosofi dan kearifan lokal masyarakat Maluku. Salah satunya adalah Siwalima, yang tercermin dalam berbagai nilai seperti Pela, Gandong, Ain Ni Ain, Larvul Ngabal, Kalwedo, Kai-Wai, Wari-Wa hingga Ita Wotu Nusa.

Semangat yang sama juga tercermin dalam ungkapan “Potong di kuku rasa di daging” dan “Ale rasa, beta rasa.”

Ungkapan tersebut menggambarkan sebuah pandangan bahwa penderitaan maupun kebahagiaan seseorang merupakan bagian dari kehidupan bersama.

Karena itu, Wakano mengajak masyarakat bergerak lebih jauh dari sekadar ko-eksistensi atau hidup berdampingan menuju pro-eksistensi—hidup bersama dengan kesediaan untuk memahami, menghargai, menerima, mencintai, memuliakan, berlaku adil, dan saling menghidupi.

Baca Juga:  Polsek Cikarang Utara Gelar Bazar Pangan Murah, Ringankan Warga Sambut HUT RI ke-80

“Kita tidak cukup hanya belajar hidup bersama. Kita harus belajar saling memahami, saling menghargai, saling menerima, saling mencintai, saling memuliakan, berlaku adil dan saling menghidupi,” pungkasnya.
Ambon dan Masa Depan Perdamaian
Dialog di Gereja Sion itu pada akhirnya membawa satu pesan penting: masa depan perdamaian Ambon bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan aparat keamanan.
Ia merupakan tanggung jawab bersama masyarakat.

Perdamaian membutuhkan keberanian untuk terus bertemu, berbicara dan mendengar satu sama lain. Ia membutuhkan kemampuan menolak provokasi, memperjuangkan keadilan, serta menjadikan perbedaan sebagai kekuatan.
Wakano mengingatkan bahwa agama-agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan dan kedamaian. Karena itu, dialog antaragama menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga perdamaian.

Ia mengutip pemikiran Hans Küng bahwa perdamaian dunia berkaitan erat dengan perdamaian antaragama, sementara perdamaian antaragama membutuhkan dialog antaragama.

Dari Gereja Sion, pesan itu kembali ditegaskan: Ambon bukan sekadar kota tempat orang berbeda hidup berdampingan. Ambon adalah rumah besar orang basudara – dan rumah itu hanya akan tetap damai jika dijaga bersama. (Ulis)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *