# Tags
#Peristiwa

Kakanwil Ditjenpas Jabar Sebut, Lapas Cibinong Jadi Barometer, Gebrak Program CircuPAS

IMG-20260822-WA0009

Ombudsmanindonesia.com, Bogor – Sampah tak lagi sekadar menjadi persoalan lingkungan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong. Dari balik tembok pemasyarakatan, limbah organik disulap menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi, melalui inovasi Circular Pemasyarakatan (CircuPAS).

Inovasi tersebut resmi diluncurkan di Lapangan Tenis Lapas Cibinong, Jumat, 21 Agustus 2026. CircuPAS menjadi langkah Lapas Cibinong mengembangkan pengelolaan sumber daya berbasis ekonomi sirkular sekaligus memperkuat pembinaan kemandirian Warga Binaan.

Peluncuran CircuPAS itu, dihadiri Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan R. Andika Dwi Prasetyo, Plt. Kepala BPSDM Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, hingga Staf Ahli Bidang Reformasi dan Birokrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarak.

Hadir juga, ketua Ombudsman RI, Perwakilan Jakarta Raya, Komandan Lanud Atang Sendjaja, Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Jawa Barat Yudi Suseno, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor, serta jajaran Kepala UPT Pemasyarakatan wilayah Bogor Raya, Bekasi, dan Tangerang.

CircuPAS menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah limbah, khususnya sampah organik, menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Proses tersebut melibatkan Warga Binaan sehingga pengelolaan lingkungan berjalan beriringan dengan program pembinaan.

Gagasan CircuPAS ini, dicetuskan Kepala Lapas Cibinong Wisnu Hani Putranto dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Angkatan X Tahun 2026.

Melalui inovasi itu, sumber daya di lingkungan Lapas diarahkan agar menghasilkan manfaat berkelanjutan. Bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga pembinaan serta peningkatan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“CircuPAS kami hadirkan sebagai bentuk nyata bagaimana lingkungan Pemasyarakatan dapat menjadi ruang untuk berinovasi dan menciptakan nilai dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah,” kata Wisnu.

Pengelolaan sumber daya tegas Wisnu, tidak boleh berhenti pada persoalan kebersihan dan lingkungan saja. Kegiatan tersebut, harus mampu membuka ruang pembelajaran dan keterampilan bagi Warga Binaan.

Baca Juga:  Hima Persis Jakpus Banggakan Polri yang Makin Dicintai Masyarakat

“Kami ingin pengelolaan sumber daya ini tidak berhenti pada persoalan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat dalam pembinaan kemandirian Warga Binaan dan menghasilkan nilai ekonomi,” ujarnya.

Peluncuran CircuPAS sekaligus dirangkai dengan peresmian sejumlah fasilitas baru di Lapas Cibinong. Fasilitas tersebut meliputi Peternakan Kambing Perah, Cibiku Cafe and Bakery, Gereja Oikumene Terang Dunia, serta Lapangan Tenis Indoor.

Kehadiran fasilitas itu, tidak semata mempercantik lingkungan Lapas. Namun, terdapat tujuan yang lebih besar, guna meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus memperkuat pembinaan Warga Binaan dari sisi kemandirian, kepribadian, dan olahraga.

Kehadiran konsep ini lanjut Wisnu, tidak hanya membuat lingkungan pemasyarakatan tak lagi hanya dipandang sebagai tempat menjalani masa pidana. Lapas diarahkan menjadi ruang pembelajaran yang produktif, tempat Warga Binaan memperoleh bekal sebelum kembali ke tengah masyarakat.

Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Jawa Barat Yudi Suseno mengapresiasi berbagai inovasi yang dikembangkan Lapas Cibinong. CircuPAS kata Yudi, memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan dapat diubah menjadi kegiatan produktif, yang memiliki manfaat langsung bagi pembinaan.

“Saya mengapresiasi Lapas Cibinong yang terus melahirkan inovasi dan mengembangkan berbagai fasilitas yang memiliki manfaat, baik bagi Warga Binaan maupun masyarakat,” jelas Yudi.

CircuPAS dinilai Yudi, dapat menjadi contoh bagi satuan kerja Pemasyarakatan lain. Pengelolaan sampah yang sebelumnya dianggap sebagai beban dapat diarahkan menjadi bagian dari kegiatan produktif dan pembinaan kemandirian.

“CircuPAS menjadi contoh bagaimana pengelolaan lingkungan dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang mendukung pembinaan kemandirian,” katanya.

Namun, Yudi mengingatkan bahwa inovasi tidak cukup berhenti pada seremoni peluncuran. Keberlanjutan menjadi pekerjaan berikutnya agar manfaat CircuPAS benar-benar terasa dalam jangka panjang.

“Yang terpenting adalah keberlanjutan. Inovasi yang sudah dibangun harus terus dijaga, dikembangkan, dan memberikan manfaat secara nyata,” ucapnya.

Baca Juga:  Polda Metro Tangkap Pelaku Penusukan Advokat

Yudi berharap, langkah Lapas Cibinong dapat ditiru satuan kerja Pemasyarakatan lainnya sehingga inovasi serupa berkembang lebih luas.

“Kami berharap apa yang dilakukan Lapas Cibinong dapat menjadi inspirasi bagi satuan kerja Pemasyarakatan lainnya,” tutur Yudi.

Dengan CircuPAS, Lapas Cibinong mencoba mengubah cara pandang terhadap limbah sekaligus terhadap proses pembinaan. Sampah organik diberi kehidupan kedua, sementara Warga Binaan diberi ruang untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman kerja.

Langkah tersebut mempertegas arah Pemasyarakatan yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan pidana, tetapi juga pembinaan manusia. Lingkungan dijaga, sumber daya dimanfaatkan, layanan publik dikembangkan, dan Warga Binaan dipersiapkan agar lebih mandiri ketika kembali ke masyarakat.

“Gerakan ekonomi sirkular pun dimulai dengan mengubah sesuatu yang dianggap tak bernilai menjadi peluang,” tutupnya. (Gomes).

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *