Usai Nobar Final Piala Dunia 2026 di Mabes Polri, Polemik Pembagian Doorprize Warnai Penutupan Acara
Ombudsmanindonesia.com, Jakarta – Suasana semarak nonton bareng (nobar) Final Piala Dunia 2026 yang digelar Polri di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (20/7/2026) dini hari, sempat diwarnai ketegangan terkait proses pembagian hadiah doorprize di penghujung acara.
Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 ini diselenggarakan oleh Korlantas Polri bersama Polda Metro Jaya sebagai ajang mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat melalui semangat olahraga. Ribuan warga tampak memadati lokasi untuk menyaksikan laga puncak sepak bola dunia dalam suasana penuh antusiasme.
Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo hadir didampingi Ketua Pelaksana kegiatan yang juga Kakorlantas Polri, Irjen Pol. Wibowo, bersama jajaran Pejabat Utama Mabes Polri. Dalam kesempatan tersebut, Kapolri dan Kakorlantas menyerahkan secara simbolis jersey Tim Nasional Argentina dan Tim Nasional Spanyol kepada perwakilan masyarakat.
Tak hanya menyaksikan pertandingan, masyarakat juga menikmati berbagai hiburan yang telah disiapkan panitia, mulai dari penampilan musik hingga sajian kuliner gratis yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Selain itu, panitia menyediakan beragam doorprize seperti sepeda, telepon genggam, televisi, sepeda motor listrik, sepeda motor matik, serta hadiah menarik lainnya. Sejumlah paket sembako juga dibagikan kepada warga dalam jumlah terbatas.

Selama pertandingan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif. Namun, setelah laga usai, muncul protes dari sejumlah warga yang mengaku namanya telah diumumkan sebagai pemenang doorprize tetapi belum menerima hadiah yang menjadi hak mereka.
Beberapa warga mempertanyakan mekanisme pembagian hadiah yang dinilai belum berjalan optimal. Mereka menilai masih terdapat hadiah yang belum diserahkan kepada para pemenang meski proses pengundian telah selesai.
Di sisi lain, panitia pelaksana menjelaskan bahwa nama-nama pemenang telah dipanggil beberapa kali untuk mengambil hadiah di lokasi yang telah ditentukan. Karena tidak ada respons dalam batas waktu yang diberikan, panitia memutuskan menutup proses pengambilan hadiah sesuai mekanisme yang telah diterapkan selama acara berlangsung.
Meski demikian, sebagian pemenang tetap berupaya meminta agar hadiah tersebut diserahkan mengingat nama mereka telah diumumkan secara resmi. Perbedaan pandangan mengenai prosedur pengambilan hadiah inilah yang kemudian memicu adu argumentasi antara sejumlah warga dan panitia di lapangan.
Berdasarkan pantauan awak media, masih terlihat sejumlah hadiah berada di area penyimpanan panitia hingga kegiatan berakhir. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan dari sebagian masyarakat mengenai kepastian penyaluran hadiah yang belum sempat diterima oleh para pemenang.
Peristiwa ini menjadi catatan penting dalam penyelenggaraan kegiatan publik berskala besar. Kejelasan mekanisme, transparansi proses distribusi hadiah, serta komunikasi yang efektif kepada peserta dinilai menjadi faktor penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada polemik.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari panitia pelaksana maupun pihak terkait mengenai tindak lanjut atas hadiah yang belum diterima oleh sejumlah pemenang doorprize tersebut. (dm)
































































































































































































































































































































